Senin, 09 Juli 2012

Biarkan Dia Selalu Disini

Percaya Tuhan tidak pernah tidur
Itu adalah kata-kata yang selalu aku jadikan pedoman untuk menjalani hidup. Ketika aku terjatuh, Tuhan tak membiarkan aku terjatuh terlalu dalam, dan Dia akhirnya memberikanku kamu.
Kamu yang mampu membuat hidupku yang dulu abu menjadi pelangi.
Kamu yang tetap tersenyum meski hatimu sendiri sedang hancur.
Kamu yang selalu mampu merubah sesuatu yang hitam menjadi putih.
Ketika ku menulis ini, aku membayangkan sebongkah kapas. Kapas yang ringan namun memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia.
Layaknya kamu yang terlihat “nakal” namun memiliki banyak arti bagi orang-orang disekitarmu.
Bagai malaikat yang dikirim dari surga, Tuhan mendekatkanku denganmu. Setidaknya untuk mengganti air mataku menjadi sebuah senyum ikhlas bagi diriku sendiri.
Namun, ketika aku dekatmu, aku takut. Takut jika suatu saat kau hilang dari hidupku.
Membuat senyum itu luntur dari wajahku. Aku takut itu terjadi.
Tuhan, biarkan dia selalu disini.
Biarkan dia selalu menemani hari-hariku.
Tak perduli apakah ada yang merasa tidak nyaman dengan kedekatanku ini, aku hanya ingin merasakan bahagia.
Bahagia bersamanya.
Jika memang Kau mengizinkannya Tuhan, jangan ambil dia dari hidupku. Biarkan dia selalu disini, menemani hariku meski itu tak lama.

kalian

Ketika aku melihat sinar matahari terbit, aku seolah tersentak akan ada pintu kehidupan yang sesungguhnya yang sudah menantiku didepan.
Namun jujur aku merasakan langkah kaki ini sangat susah dan berat untuk melangkah maju. Seolah kakiku terbelenggu oleh ketakutanku sendiri.
Takut akan jatuh, takut akan sendiri, takut akan dilupakan, dan segala macam ketakutan lainnya.
I’m believe that God always beside me kata-kata itu yang mampu menenangkanku sejenak dan membuatku berucap “jangan ambil mereka dari hidupku”.
Yah, kalian.. kalian yang selalu menjadi teman disaat aku kesepian.
Kalian yg selalu menjadi ayah disaat aku takut.
Kalian yang selalu menjadi ibu ketika aku butuh untuk didengarkan.
Kalian yang selalu menjadi kakak untuk menjahiliku.
Kalian yang selalu menjadi adik yang menguji kesabaranku.
Kalian yang selalu menjadi sahabat ketika aku ingin melangkah.
Kalian yang selalu menjadi nenek yang selalu memberikan pesan-pesan bijaksana.
Kalian yang selalu menjadi kakek yang menguatkan ketika aku jatuh.
Itu semua kalian, memang benar kalian..
Tak perduli apakah kalian masih mau menanggapku ada atau tidak.
Tak perduli apakah aku dianggap berlebihan.
Tak perduli apakah aku manusia yang munafik.
Tak perduli apakah aku seorang yang buruk.
Kalian tetap selalu ada buatku, tetap setia disini menungguku kembali ketika aku lupa untuk pulang.
Memang tak semua dari kalian mampu bertahan denganku, namun ku hargai kalian yang sudah mau “mensia-siakan” waktunya hanya untuk aku.
Tanpa kalian yang pernah mampir kehidupku, aku takkan pernah tau betapa sakitnya rasa kehilangan itu.
Betapa menyesalnya aku ketika aku tak mampu mempertahankan kalian disisiku.
Dan kalian yang masih mau menjadi cerita dihidupku, ku ucapkan banyak terimakasih.
Terlalu banyak senyum, air mata, kesedihan, kebahagian dan lain sebagainya yang aku lewatkan bersama kalian.
Darah memang lebih kental dari pada air, namun persahabatan yang suci lebih kekal dibanding apapun.
Terima kasih, terima kasih dan terima kasih..

matahari terbenam part II

“yah aneh kak, jantung aku deg-degan aja waktu ngeliat senyumnya dia. Tuh kan, hanya dengan ngomongin dia aja aku langsung deg-degan lagi. Apa jangan-jangan aku punya penyakit jantung ya kak ?” jawab citra. “hahaha, lucunya sih adek kakak yang satu ini. Itu bukannya kamu yang punya penyakit jantung, tapi kamu lagi ngerasain yang namanya jatuh ciinta..”balas kakaknya. “apa ? jatuh cinta ? masa’ iya ? kayaknya enggaak deh kak..” ujarku. “yee, dibilangin gak percaya! Sekarang kalo kamu inget-inget masa kamu berduaan waktu liburan kamu bilang kamu deg-degan. Kalo gak ketemu sehari aja rasanya udah kaya setahun. Itu tanda-tandanya orang jatuh cinta”, jelas kakaknya. Dalam hati Citra seketika itu juga ada gejolak yang membenarkan ucapan kakaknya tadi namun ada gejolak lain yang ingin menyangkal ucapan kakaknya tersebut. Namun memang harus Citra akui kalo sebagian besar ucapan kakaknya itu benar. “Lalu aku harus bagaimana ?” pertanyaan itu yang selalu muncul dalam otaknya yang mengekspresikan rasa “Galau”nya akan sosok Kak Erik.
Masa liburan akhir semester Citra pun akhirnya terisi oleh masa-masa liburan berdua dengan kak Erik. Dan penjelasan dari kakaknya tempo haripun makin lama makin membukakan mata hatinya terhadap cinta. Cinta yang merupakan anugrah dari sang maha kuasa. Namun Citra tau, kalo dia dan kak Erik hanya mampu menjadi seorang sahabat dan kakak adik saja, tak lebih dari itu.
Dan masa sekolah pun datang kembali. Kak Erik yang kini duduk dikelas 3 SMA pastinya sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian nasional. Maka tak heran jika Citra lebih memilih untuk menjaga jarak terlebih dahulu dari Kak Erik agar tidak mengganggu konsetrasinya. Namun tak dapat dipungkiri jika terkadang dia merasa sepi meskipun dia sedang berkumpul dengan teman-temannya ditempat keramaian.
Suatu pagi disekolah, Riska yang duduk sebangku dengan Citra heran melihatnya pagi-pagi datang dengan mata sembab. “loe kenapa sih Cit ? masih pagi udah lesu gitu ? habis nangis ya loe ?” tanya Riska. “ya gitulah Ria..” jawab Citra lesu. “kangen sama Kak Erik lagi ?” tanya Riska lagi. Dan Citra kali ini menjawabnya dengan anggukan kepala. “ya udah, pulang sekolah ikut gue cari baju buat sweet 17  gue ya..” ajak Riska. “emang ultah loe kapan ?” jawabnya heran. “gila loe, ultah sahabat sendiri sampai lupa, 2 hari lagi Cit.. move on lah.. masa gara-gara gitu aja sampai lupa temen loe.. pokoknya waktu disana loe ga boleh keliatan sedih kayak gini.. ngerti !” ujar Riska. “iya bawel” jawabnya. Dan sepulang sekolah, Citra memenuhi janjinya untuk mengantar Riska pergi membeli gaun untuk pestanya. Disana ia berusaha menyenangkan hati Riska dan mulai belajar untuk membiasakan diri tanpa Kak Erik.
Dan hari ulang tahun Riska pun tiba. Suasana ceria begitu terasa, seolah tak ada lagi perasaan sedih. Hanya senyum dan tawa yang ada disana. Citra pun berusah menyesuaikan dirinya dengan situasi pesta. Namun Riska sebagai sahabat tau bahwa sebenarnya Citra tidak bahagisa. Akhirnya diapun berinisiatif untuk mengenalkan Citra dengan temannya yang bernama Boby. Boby adalah teman Riska yang bersekolah di Bandung. “Cit, sini.. “ panggil Riska. “ada apa Ris ?” tanya Citra. “kenalin temen gue nih, namanya Boby. Bob, kenalin temen gue Citra” ujar Riska. “Boby.. senang kenalan dengan loe” basa-basi Boby. “iya, sama gue juga” jawab Citra singkat. “Bob, gue tinggal bentar yah, loe ngobrol-ngobrol aja sama Citra. Cit bentar ya” pamit Riska. Riska sengaja meninggalkan mereka berdua agar mereka mampu lebih dekat, dan sahabat tercintanya Citra sejenak mampu melupakan Kak Erik.
“loe kelas berapa ?” tanya Boby. “kelas dua SMA, loe sekolah dimana ?” balas Citra. “gue sekolah di Bandung, kebetulan Riska ngadain acara jadi gue dateng. Secara Riska temen gue dari kecil.” Jawab Boby. “ooh loe temen lamanya Riska. Pantes deket banget keliatannya” jawab Citra. Mendengar jawaban Boby tadi, Citra berfikir kalo Boby anak orang kaya yang setia kawan, itu adalah kesan awal yang ditangkap Citra. Dan tibalah saat tiup lilin ulang tahun Riska. “Yuk kesana,” ajak Boby yang sekaligus membuyarkan lamunan Citra. “oh iya ayo..” balasnya.
Selamat ulang tahun, kami ucapkan. Selamat panjang umur, kita bahagia. Selamat sejahtera, sehat sentosa. Selamat panjang umur dan bahagia. Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga.. sekarang juga..
Semua hadirin disitu bernyanyi dengan penuh semangat dan menghaturkan doa tulus untuk umur Riska yang baru ini, termasuk Boby dan Citra. Setelah acara potong kue selesai, Citra diminta Riska untuk menyanyikan sebuah lagu untuknya. Awalnya Citra tidak mau, namun akhirnya dia mau karna Boby bersedia berduet  dengannya. Akhirnya mereka menyanyikan dua buah lagu, yang pertama adalah Indah Cintaku dari Vannesa Angel Dan Nicky Tirta. Yang kedua adalah lagu dari Last Child feat Gisella – Seluruh Nafas Ini. Semua tamu yang ada disitu begitu menikmati perfomance dari mereka. Terutama ketika Citra menyanyikan lagu Last Child, sangat terlihat jika Citra menjiwai lagu tersebut.
Turun dari panggung, Citra disambut wajah senang oleh Riska. Lalu Boby bertanya apakah lagu seluruh nafas ini memiliki arti yang begitu mendalam baginya, namun Citra tak menjawab dan pamit ingin pergi ke kamar mandi. Boby yang kebingungan akhirnya bertanya pada Riska dan Riska menceritakan semuanya. Dan beberapa saat setelah itu, Citra kembali dan Boby pun mengajak Citra untuk menepi sejenak karna ingin membicarakan sesuatu. Namun, Citra tak langsung mengiyakan ajakan Boby tersebut. Namun Boby tetap berusaha.
*bersambung*