Kak Erik adalah sesosok pria yang
cerdas. Seoranng pria idaman para wanita diluar sana. Sedangkan aku, gadis
kecil yang terpikat olehnya. Saat itu aku masih berusia 16 tahun dan kak Erik
berusia 1 tahun lebih tua dariku. Wajar saja jika seusiaku aku tertarik oleh
lawan jenis, apalagi seperti kak Erik yang begitu sempurna dimataku.
Minggu itu aku dan dia berencana
pergi ke tempat penangkaran penyu yang ada di bali. Saat itu kami sedang libur
sekolah dan kami bosan dengan suasana rumah yang monoton. Perjalanan itu kami
tempuh dengan naik sepeda motor berdua dalam waktu 1,5 jam. Sepanjang
perjalanan, seolah alam menunjukkan keelokkannya kepada mata kami. Seolah alam
tau kalau kami berdua bosan dengan suasana kota yang selalu padat dan tak
pernah tidur. Sangking asyiknya aku melamun kak Erik memanggil namaku hingga 3
kali supaya aku terbangun dari mimpiku. “Hah, dasar Citra bodoh, sampe di
ketawain kak Erik kan.. malu deh pasti”, gumaku dalam hati. “Sudah, jangan malu
gitu, makin cantik deh kalo pipinya merah kayak gitu..”, kata Erik. “Ah, bisa
aja deh kakak ini. Masuk yuk, penyunya lucu-lucu tuh pasti”, ajakku. “ayo cit,
aku juga udah ga sabar”, ujar erik.
Setelah itu kami masuk dan
bertemu dengan orang yang sudah membuat janji dengan kami. “Pacarnya ya nak
Erik ?”, ujar petugas. “bukan pak, ini tetangga dekat saya. Saya sudah
mengganggapnya sebagai adik saya. Dari kecil kami sudah kenal jadi kami sering
berlibur bersama seperti ini”, jelasnya. Ketika mendengar kata adik, hatiku
seolah merasakan sesuatu yang tak ku ketahui apa maknanya. Namun aku mencoba
mengalihkan perhatianku dengan fokus menyimak penjelasan dari petugas
penangkaran. Begitu menyenangkannya menangkar penyu. Penyu yang spesiesnya
hampir punah karna diburu oleh manusia-manusia tak bertanggung jawab.
“Citra, muka kamu kotor tu..”,
ungkap Erik. “Hah, serius kak ? dimananya ?”, balasku kaget. “Sini aku bersihin
aja”. Sambil menggenggam tanganku dan menariknya dengan pelan dia berkata
seperti itu, lalu mengambil sapu tangannya yang dibordir dengan inisial
namanya. Entah angin apa yang hinggap di hatiku yang mampu mebuatku merasakan
sesuatu yang tak biasa. Dan tiba-tiba Kak Erik membangunkanku dari khayalan
dengan berkata “Sudah, yuk lanjutin.. kasian penyunya loh di anggurin”. Aku
langsung menganggukan kepala dan mengucapkan terima kasih kepadanya.
Dari pagi hingga matahari hampir
tenggelam aku dan kak Erik bersama-sama membantu tempat penangkaran penyu
tersebut. “Terima kasih banyak Erik dan Citra sudah mau membantu merawat
penyu-penyu ini. Padahal kalian sedang liburan tapi masih mau membantu kami.
Andai banyak anak muda yang seperti kalian”, ujar perpisahan petugas itu dengan
kami. “Bapak jangan gitu ahh, kami kan jadi malu. Itu perbuatan yang biasa kok
pak. Tidak sehebat apa yang bapak dan kawan-kawan lakukan setiap harinya”,
ujarku. “iya bener pak. Kami juga berterima kasih kepada Bapak karna sudah mau
mengajarkan kami ilmu merawat penyu yang baik”, sambung Erik. “Baiklah kalau
begitu, sudah hampir terbenam matahari.. kalian harus segera pulang agar tidak
kemalaman”, jelas petugas. “iya pak, terima kasih pak. Kami permisi dlu”, pamit
Erik. Lalu aku mengikuti langkah Erik yang sedikit lebih awal dariku. Lalu
mendadak dia berhenti dan menggandeng tanganku. Dan perasaan itu muncul lagi.
Seharian ini perasaan aneh itu muncul terus dalam hatiku. Namun apa nama
perasaan itu ? aku tersentak dengan indahnya sinar matahari terbenam yang coba
ditunjukkan kepadaku oleh Erik.
“Bagus kan mataharinya cit ?”,
tanya erik. “iya kak, bagus banget. Andai tiap hari bisa liat kaya gini terus.
Pasti gak ada tuh yang namanya galau-galau lagi. Hahaha”, godaku. “Hahaha,
darimana kamu dengar kata galau itu ? gaul banget sih kamu ini ?”, sambil
mengelus kepalaku. “dari kakak lah pasti, kan kakak anak gaul. Hahaha”, ungkapku.
“kamu tuh ya, bisa aja kalo godain aku. Oh ya, kamu tadi kok bisa ngomong gitu
waktu pamitan ?’, tanyanya. “ngomong yang gimana kak ?”, aku menatapnya
bingung. “elakkan saat dipuji. Dewasa banget omongan kamu tadi”, seraya
membalas tatapan heranku tadi. Sorot matanya yang tajam itu membuatku terdiam
sejenak, seraya mencoba menelaah arti rasa yang datang lagi saat itu didiriku.
“aku ngomong gitu soalnya sering banget kakakomongin kalo habis dipuji orang.
Jadi dengan kata lain aku jiplak kakak. Hahaha”, ujarku.
“hahaha, gak jiplak kok. Kamu
lebih keliatan keren saat ngomong gitu tadi.”, balasnya. “yes, aku dipuji kak
Erik. Harus update status nih. Hahaha”, ejekku. “kamu itu ya, lucu deh.. bikin
hari ini berkesan banget. Makasih yah udah mau ikut aku main kesini.”,
ungkapnya. “sama-sama kak.. pulang yuk, ngantuk nih”, ajakku. “ayo”, balasnya.
Suasana pulang saat itu aku tertidur dengan posisi memeluknya diatas motor.
Begitu nyaman, serasa tidur diatas kasur yang harganya triliunan rupiah.
Rasanya begitu tenang dan damai.
Tak terasa aku sudah sampai
dirumah. Aku langsung dibangunkan oleh Kak Erik yang tak tega melihatku
merasakan capek. “Sudah sana masuk, langsung mandi dan tidur ya. Have nice
dream. Besok aku BBM”, jelasnya. “iya kak. Nice dream too”, balasku. Setelah
suara motornya menghilang aku baru masuk rumah dan langsung menuju kamarku. Aku
segera mandi dan tidur sesuai dengan suruan kak Erik. Sejak kapan aku jadi
penurut ? mendadak fikiran itu terbersit diotakku. “Hah, sudahlah”, sangkalku
sendiri. Tiba-tiba bibi menyuruhku turun untuk makan malam dengan ayah dan
mamaku serta kakakku.
“kamu kenapa dek ?”, tanya
kakakku. “emm, Cuma capek aja kok kak.”, jawabku. “ohh. Gimana tadi liburannya
? seru gak?”, tanyanya lagi. “Seru kok. Tapi ya gitu aku ngerasain perasaan
yang aneh”, terangku. “Aneh gimana maksudnya?”, katanya heran.
*BERSAMBUNG*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar